Sajak
“KAPAN SEKOLAH KAMI LEBIH BAIK DARI KANDANG AYAM” :
oleh Prof. Winarno Surahmad.
“Tanpa sebuah kepalsuan, guru artinya ibadah.
Tanpa sebuah kemunafikan,
Semua guru berikrar mengabdi kemanusiaan.
Tetapi dunianya ternyata tuli. Setuli batu.
Tidak berhati.
Otonominya, kompetensinya, profesinya
hanya sepuhan pembungkus rasa getir,”
“Bolehkan kami bertanya,
apakah artinya bertugas mulia
ketika kami hanya terpinggirkan
tanpa ditanya, tanpa disapa?
Kapan sekolah kami lebih baik dari
kandang ayam?
Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluarsa?
Mungkinkah berharap
yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?”
“Ketika semua orang menangis,
kenapa kami harus tetap tertawa?
Kenapa ketika orang kekenyangan,
kami harus tetap kelaparan?
Bolehkah kami bermimpi di dengar
ketika berbicara?
Dihargai layaknya manusia?
Tidak dihalau ketika bertanya?
Tidak mungkin berharap
dalam kondisi terburuk,”
“Sejuta batu nisan
guru tua yang terlupakan oleh sejarah.
Terbaca torehan darah kering:
Di sini berbaring seorang guru
semampu membaca buku usang
sambil belajar menahan lapar.
Hidup sebulan dengna gaji sehari.
Itulah nisan tua sejuta
guru tua yang terlupakan oleh sejarah,”



![[Valid RSS]](http://kangguru.files.wordpress.com/2007/03/valid-rss.png)





Iya benar. Guru kerjanya luar biasa, gajinya malah luar binasa.
jangan geto dunk pak pak dunk pak (bunyi gendang). biar gajinya kecil tapi kan amalnya besar, ya kankankankankan?
oh ya! sekali kali kunjungi dunk web saya pak. bapak kan kangguru, jadi ya melompat eh bagi bagi duit eh maaf bagibagi ilmu gitu loh !
udah tuh
mungkin karena tak punya tanda jasa jadi jasanya sama sekali tak terlihat pak. bener nga’ pak
KAPAN PERIUK KAMI LEBIH BAIK DARI PERIUK PAK GURU
badai datang telah melalu
bersama kenaikan persen beribu-ribu
kini menari gembira keluarga penggugu
tetap kokoh dapur kasur dan sumur pak guru
berdecak kagumlah para peniru
bertempurlah semangat menjadilah serdadu
namun sayang tak jua meniru
tetap kokoh dapur kasur dan sumur pak guru
desir… angin barat berhembus bak surga
mengipas-kipas dolar menghias-hias iri hati tetangga
pekik tangis mereka membahana:
“kapan periuk kami lebih baik dari periuk pak guru!!!”
selamat kepada gu(ruku)
oh yaa ada yang lupa, makasih atas clebnya mas… di kebunku, semoga clebnya sampean di sana menaam benih baru biar tumbuh semangatku yang baru… oh gu(ruku) jadi teringat dikampung kepada guru yang begitu pandai menulis sperti anda…
kan ada surat susulan, yang isinya menyatakan bahwa:
abu dari buku yang telah dibakar, akan ditukar dengan buku-buku baru yang masih dalam rencana pembuatan, dan nantikan kehadirannya secara nyata di perpus kita
makasih atas sarannya, ntar dicoba
@pipindp
hahahhaha nantikan terus nantikan
nasib mu guru, walaupun tanpa tanda jasa nama mu selalu dikenang sepanjang masa. teruslah berkarya dan melawan kebodohan. ” lebih baik melawan atau duduk manis tapi tertindas “
[...] “Sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah. Terbaca torehan darah kering: Di sini be… [...]
bener, percaya
guru, orang paling keren sedunia,
[...] Kangguru, seorang pengajar dari negeri Australia Bogor . Guru satu ini dulu sangat aktif menulis dan seperti biasanya berbahasa ringan dan hangat. Sayapun pernah membuat komentar pertama yang membuat dia kurang sreg kali… saya terkenang pada komentarku di sajak Prof. Dr. Winarno Surakhmad tentang gaji guru, [...]
guru”di gugu lan ditiru” jadi memang sieh berat banget tanggung jawabnya tappi……setimpal ketika kita tau bahwa bau seorang guru seharum wangi surga,karena berapa banyak ilmu yang telah ditularkan dan itu adalah amal jariyah yang tak terputuskan.aminnnn jika ilmu itu bermanfaat untuk kebaikan.ok,guru pokokna keren deh
kita khan hanya digaji dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa…yo kudu ditrimak-trimakke!