Kekerasan itu masih ada di Sekolah

Sekolah menjadi rumah kedua bagi anak ( yang punya rumah tentunya ), dimana anak  banyak meluangkan waktu dalam memperoleh pendidikan . Penyelenggara sekolah mestinya jadi orang tua kedua dalam pengasuhan anak ( tapi  banyak loh yang suka ngasuh anak SMA🙂 ) yang notabene nya lagi mengalami perkembangan baik dari sisi fisik, psikologis maupun biologis. Eh fungsi sosialnya juga ada lho.

Sayangnya dari berbagai berita mungkin kita pernah dengar kekerasan pada anak justru terjadi di lembaga yang bernama sekolah. Dimana sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak. Ketika siswa dianggap sebagai objek (“kertas putih”, “celengan”) yang akan menerima apapun dari gurunya, maka disitu ada peluang terjadi kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak. Guru biasanya berlindung di balik alasan mendisiplinkan anak. Bukan ngak boleh memberi pelajaran disiplin pada anak tapi kadang guru itu lupa bahwa anak-anak tidak bisa di samakan dengan orang dewasa. Contoh yang sering terjadi adalah siswa di paksa pulang karena telat, menurut pandangan saya sich ngak usah di suruh pulang lha wong datang kesekolah kan udah bawa niat dari rumahnya untuk belajar.

Prinsip teoritis tentang belajar mengatakan antara lain :

  • Belajar paling efektif bagi anak adalah ketika kebuutuhan fisiknya terpenuhi dan ketika secara psikologis mereka merasa aman.
  • Siswa membangun pengetahuan mulai dari yang mereka ketahui
  • Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa di sekitarnya dan teman sebayanya untuk menjadi mandiri.
  • Belajar melalui bermain
  • Motivasi belajarnya tumbuh dalam dirinya sendiri

Penyebab terjadi kekerasan pada anak dilembaga yang bernama sekolah

Faktor orang terdekat dengan anak

  • Guru yang tidak profesional ( eh ada ngak sich guru yang profesional itu )
  • Guru yang pilih kasih
  • Pemaksaan kehendak ( ini bisa dari Guru maupun teman sebaya )
  • Intimidasi ( juga bisa dari guru maupun teman )
  • Guru malas ( hayo siapa tunjuk jari ? )
  • Guru jahil ( hihihi ada toch guru yang jahil )

Faktor anak

  • Siswa kurang sopan
  • Siswa meremehkan guru ( yang emang sudah dianggap remeh kali )
  • Tidak mentaati peraturan
  • Tidak mengerjakan PR
  • Bolos
  • Berkelahi
  • Ribut
  • de el el dech

Faktor Lingkungan

  • Kepala sekolah korupsi ( gurunya marah anak jadi sasaran hehehe)
  • Keamanan sekolah kurang tegas
  • Suap dan kolusi di sekolah

sumber : kekerasan terhadap anak di Mata Anak Indonesia,

World Vision dan Unicef

 

~ oleh kangguru pada Maret 8, 2007.

22 Tanggapan to “Kekerasan itu masih ada di Sekolah”

  1. Ya, kalau siswa terlambat jangan disuruh pulang atau dihukum. Sebaiknya kita beri contoh dulu, kita tidak pernah terlambat. Coba berbuat seperti Aluh Emok di kantin sekolah yang tidak pernah terlambat membuka dagangannya, pasti anak-anak suka belangganan di situ. Jangan seperti Ibu atau Bapak Guru Mat Joki yang selalu ngomel kalau sudah bel siswanya nggak masuk-masuk ke kelas kalau gurunyabelum masuk kelas. Lha ya iya dong. Gurunya harus masuk kelas dulu,baru siswanya. guru kan digugu dan ditiru. Termasuk meniru tepat waktu masuk kelas. Saya jamin deh – kecuali anak bengal – pasti mereka juga akan tepat waktu masuk kelas.

    @willyedi
    setujuuuuuu

  2. Ass. Wr. Wb.

    Kangguru gimana kabarnya?

    saya setuju kang kekerasan disekolah itu memang ada sampai saat ini contohnya seperti yang kangguru sebutkan, nah pertanyaan saya guru itu harus bagaimana diam saja melihat anak didiknya ga sopan?

    @jokotaroeb
    Waalaikum salam WR WB
    alhamdulillah kang, kayaknya prinsip tauladan bisa tuh untuk memulai gerakan sopan santun di sekolah

  3. seminggu terakhir saya dapat kabar dari 2 sekolah di sekitar saya yang memiliki kasus kekerasan oleh guru kepada siswa dan dibalas kekerasan dari wali siswa ke guru. Runyam…
    Pandangan saya mulanya adalah jelas menyalahkan siswa karena siswa yag smula diingetkan baik2 untuk mematuhi peraturan di sekolah ternyata tidak menggubris teguran berulang. Saking emosinya sang guru memukul badan siswa (tidak keras-keras amat sih, tidak seperti nggebug maling) eee si orang tua gak terima malah membawakan senjata tajam hendak mengeroyok sang guru, padahal anaknya hanya dipukul untuk mendidik.
    Di SMA lain, ada anak kecil tapi bandel dan sombong karena selalu menyombongkan gelar keturunannya, ujung-ujungnya sang guru dintimidasi oleh orang-orangnya yg brangsakan.
    Bahkan tahun sebelumya ada guru yang di babakbeluri oleh kaki tangan orang tua sang siswa. PAdahal hanya dipukul guru dengan gulungan kertas ulangan yang hanya 5 lembar. Gara-garanya karena tidak mau disiplin.
    Pokoknya di daerah saya guru tidak diajeni, tidak dihargai. Akhirnya saat ini guru lebih banyak tidak perduli, mau diingatkan syukur tidak yah ditawari untuk keluar dari sekolah saja.
    Bagaimana kang kalau begini ini?

    @pak Guru
    itulah pak bedanya sekarang dengan dulu, ajen seorang guru, dulu kalo ada anak di marahin gurunya pasti orang tuanya ikut dukung marahin anaknya, sekarang malah kebalik ortunya malah datangi sekolah marahin guru

  4. Repot juga jadi guru ya, serba salah mau mendidik tp yg dididik bandel, mau sabar, tp namanya guru juga manusia, makanya guru itu ada pelajaran psikologi ya pak? cara mendidik atau akta gitu biar bisa persuasif…

    Klo di US anak2 ga berani sih sm guru, klo yg masih SD dipanggil sweety (anak manis) klo yg SMP dan SMA dipanggil mr or mrs sesuai namanya dianggap org dewasa yg harus btg, jawab

    @ Bu Dokter
    wah bagus tuh kayaknya mulai dari sapaan/panggilan ya

  5. Siswa membangun pengetahuan mulai dari yang mereka ketahui

    STOP anggap siswa sebagai obyek.
    Tentang ketidakdisiplinan anak memang merepotkan. Kalau hanya diberi hukuman secara lisan (baca: dimarahi dll) sepertinya anak jaman sekarang sudah imun alias kebal.
    Tetapi kalau pakai kekerasan nanti gurunya diprotes, bahkan kalau apes bisa dipecat gara2 didemo

    Kayaknya hanya dengan contoh nyata anak bisa mengerti

  6. saya jadi takut nih nyekolahin anak di Indo.. apa suruh sekolah di luar negeri aja kali ya?

    kalo buat sayamah ngak mampu kang nyekolahin ke luar negeri mah

  7. Tidak semua kesalahan ditimpakan kepada Guru-guru kita. Orang tua juga punya peran yang sentral utk. mendidik anak2nya sejak dari rumah, dan guru hanya sbg pelengkap saja (mendidiknya jika diluar rumah).

    Eits…tunggu dulu, Guru juga manusia biasa. yang bisa terbawa emosinya. Kadang masalah2 pribadi, rumah tangga, dan masalah2 lainnya. Semoga masalah2 yg disebutkan tadi tidak terbawa2 saat mengajar, sehingga tidak menimpakan emosinya kpd. anak didiknya. Disinilah seorang Guru dituntut utk. lebih Arif dan bijaksana, karena Guru sudah dianggap oleh kebanyakan orang sbg. Orang yang Mulia tanpa cela. waduh….repotnya jadi seorang guru yg setiap gerak-geriknya ga boleh salah. Padahal khan Guru juga manusia biasa ya Kang?!

    hehhehe repot ya kang, GURU JUGA MANUSIA

  8. kalo di tingkat smp dan sd hal itu memang sangat riskan pak. mereka tidak berani melawan jika dikerasi, dan kadang mereka juga tidak berani lapor ke ortu. tapi mungkin tidak pada smp saya dulu.

    dulu di smp saya ada guru yang sangat kejam, kalo mengghukum luarbiasa keras, dan saya salah satu “korban” karena selalu melawan jika dia melakukan hukuman yang diluar batas, tapi pada akhirnya guru itu dapet balasan setelah saya dan bebersapa (ratus) teman demo selama 2 hari (hehehehe, masih kecil sudah belajar demo)

    dan untuk sma, sebetulnya siswa seharusnya sudah bisa membela diri mereka sendiri jika mereka mengalami kekerasan, kalo perlu laporin ke polisi, kan setip orang yang sudah 17 tahun sudah dianggap cakap hukum, jadi sesunguhnya sangat nekat bagi seorang guru juka berani mengerasi anak smu (hal yang sama pada smp saya pernah terjadi juga pada sma saya, pas angkatan saya juga, hampir demo hehehehe)

    @ndarualqaz
    waduh ngeri bayanginnya nanti penjara penuh dengan guru, karena guru ngak mampu nyogok p*****

  9. Tadi ada anak kelas 3 SD mengeluh sakit perut setiap olah raga.
    Waktu saya periksa perut bagian bawah memang mengeras dan si anak kesakitan sampai terbongkok-bongkok waktu berjalan.
    Kejadian seperti ini sudah berlangsung berulang kali dan menimpa beberapa siswa.
    Bilangnya siswa di kelasnya harus skipping minimal 40 kali.
    Di SD yang lain tidak seperti itu.
    Sepertinya pelajaran Olahraga sangat individual ya Pak
    Apa termasuk kekerasan ?

    @cakmoki
    olah raga memang individual pak, dosisnya mungkin pak yang berlebihan

  10. kang saya ada kasus nih nyata lho… kebetulan di dkat rmah saya ada taman belajar dan bermain untuk siswa SD, swadaya masyarakat visinya untuk menumbuhkan minat belajar anak dan mengurangi mereka menonton TV ato main PS… langsung aja nih..karena rumah saya dekat mau g mau tingkah polah anak-anak itu sedikit terpantau oleh saya hi.. (bukan memata-matai😛 ), ada salah satu anak yang yang maap agak “istimewa” karena selain ia g nurut sama guru suka berbicara kasar dan meremehkan baik guru maupun orang dewasa sekitar padahal masih kelas 2 SD, sempat saya dengar karena ada yang terganggu oleh “keistimewaannya” anak itu mendapat treatmen tangan dari seorang bapak (usianya mgk diatas 60 th, mungkin jengkel). malah guru lesnya di taman bermain, kebetulan perempuan pun pernah menangis karena “keistimewaannya”,orangtuanya sering datang untuk minta maaf dan minta agar anaknya jangan dikeluarkan. Saya sempat berfikir bagaimana saya dan apa yang saya akan lakukan jika saya ada posisi ibu guru tersebut, mengingat saya adalah orang yang tidak sabar dalam menghadapi keistimewaan anak seperti itu.???mungkinkah hal ini juga terjadi pada guru-guru yang lain? atau kangguru punya nasehat untuk menghadapi anak seperti itu untuk menghindari kekerasan?nanti saya sampaikan deh pada gurunya… (ko jadi konsultasi ya … he.. )🙂

    @xwoman
    waduh untuk anak ruar biasamah saya ngak punya tips, mudah-mudahan ada psikolog yang ngeblog

  11. @ grandiosa 12

    kenapa takut nyekolahin di indo ?? mang smua skul n guru di indo brutal ya😦 ?? g juga x tergantung anak n pola asuh ortu juga x (ups… bukan bermaksud membenarkan kekerasan lho)

    @all
    ngak mampu euy nyekolahin ke luar negri mah

  12. eh ralat komen yang pertama no 10 bukan agak “istimewa tapi saanngat “istimewa”

  13. Dari SD saya belum pernah tuh nemu sekolah yang bebas dari kekerasan. Mungkin yang bebas kekerasan cuma sekolah mahal yang gurunya makan cukup.

    @Helgeduelbek
    Kalau guru hanya mukul pake kertas udah dihajar orang itu berarti memang sial, apes nasibnya buruk, mungkin kurang amal. Karena di tempat lain ada juga (banyak) guru yang main gampar plus tendang sambil katarsis tidak pernah diapa-apain. Rekan-rekan guru yang lain malah memaklumi. Jaman saya begitu. Semoga sekarang udah berubah. Bisa dibakar tuh kalo masih begitu.

    Berikut ini hukum sekolah yang masih saya ingat, mungkin bisa diterapkan disekolah anda:

    #Bolos upacara senin pagi, malah ngumpet ngerokok dibelakang kantin, alasan anak: males.
    Hukuman: Dijejer didepan kelas, ditendang satu persatu. Kali yang lain disuruh menghisap beberapa batang rokok menyala sekaligus. Entah kalau sendiri, mungkin hukumannya lebih parah. [sering]

    #Terlambat masuk, lalu loncat pagar dan berusaha menyelinap masuk. Alasan anak:  guru sering terlambat (banget) masuk kelas, jadi selalu ada harapan menyelinap masuk tanpa kena sanksi.
    Hukuman: Ditampar, biasanya tak sampai 5 kali. Lalu disuruh tanda tangan kertas kucel buram ga penting. [sering]

    #Coret-coret di kertas ujian. Alasan: daripada bengong atau tidur.
    Hukuman: dimaki-maki di depan teman-teman, ditarik ke kantor dan digampar 10 kali lebih. Hidung sedikit berdarah, tapi tak berani cerita ke orang tua karena sudah diancam akan dikeluarkan. [satu kali]

    #Baris tidak rapi saat olahraga. Alasan anak: Masih sd, gila! bakat fasis blm berkembang nih!
    Hukuman: Diluruskan dengan tendangan, kadang kena jari tangan, sakit banget. [sering]

    #Ketahuan mengintip kamar ganti cewe sewaktu pelajaran berenang. Alasan anak: pengen aja. Hukuman: malah ringan, ga ada hukuman fisik, cuma dimaki dan dipermalukan sedikit. [saya belum pernah mengalami sendiri]

    hehe, masih banyak sih, tapi ntar dituduh numpang ngeblog😛

    beda dikit kalau dulu saya lapor sama ortu di gebuk guru, ortu bakalan nambahin gebuk saya, kalo sekarang malah gurunya yang di gebukin

  14. fyi, no 13 itu ga cuma di SD lho, semua pengalaman sampe SMP. Masuk SMU udah ga nemu guru keras pake fisik, mungkin takut dibalas.

    @wedehel
    ops pengalaman pribadi ya

  15. Kayaknya sekarang guru harus lebih santai deh, dari pada kena masalah. siswa yang bisa ditegur… ditegur dengan baik. yang ngak,.. biarin aja.
    Tugas kita kasi nasehat kalo ada yang menyimpang. Kalo si murid ga terima,, ya udah. toh yang ngerasain dia sendiri.
    Kita fokus pada ngajar aja. Untuk mendidik….???
    Kalo bisa.
    Ke depan, tampaknya, tugas guru lebih kepada sebagai pengajar bukan lagi pendidik.
    ????

  16. @ X W O M A N

    sapa yang takut nyekolahin di Indo? biasa ajah ah.. paling2 kalo kejadian anak saya digebukin di sekolah oleh gurunya.. ya saya gebuk balik tuh.. *ditunggu di pengkolan mamawa bedog.. sok rek naon siah.. hehehee

  17. Tugas Guru makin lama makin berat ya ! Soalnya, kalo dulu itu jaman industri, ngajarnya harus banyak ilmu pengetahuannya. Kalo sekarang jaman informasi, kalo ngajar guru harus punya banyak ilmu dan punya banyak informasi. Termasuk juga harus punya peralatan yang bisa menghasilkan informasi. Kalau sekolahnya kaya mungkin akan terkurangi bebannya. Sementara yang nggak, bisa jadi harus cari akal lain. Padahal harus mengajar secara profesional .

  18. kalo muridnya bandel banget gitu, emang kangguru gak gatel buat gebukin? hehe…
    jangan ya pak!
    mendingan racun pake arsenik aja

  19. usul ne! kalo mau menghukum murid yang berguna…

    misalnya ga ngerjain pe-er.. suruh ngerjain aja di depan kelas
    kan tujuannya pe-er biar muridnya bisa tho?
    bukan malah menyruhnya keluar kelas…
    itu namanya tidak mencerdaskan bangsa

    ataw muridnya mbolos…
    suruh ngresiki wese aja
    lumayan kan wese sekolah jadi tambah resik
    ataw nyapu halaman sekolah…
    bukan menganggapnya pembantu
    tapi… ngajari resikan…
    hehe.. ^_^

  20. “Mendisiplinkan anak”, gurunya sudah disiplin ya…?

  21. Rapelan lagi
    @moerth
    iya ya santai aja lagi

    @poerwadi
    tugas makin berat gajinya dipotong terus hehehhe

    @antobilang
    gatel-sich gatel paling garuk-garuk kepala

  22. ass.wr.wb…

    ada cerita yang bisa dibagi nih..
    pas baru masuk jadi guru saya pernah diberi “pengalaman” oleh guru matematika😉..
    “pak kita jadi guru harus sabar,lah wong kita bener aja masih dianggap salah kok ”
    “gmana bisa pak”?
    “saya pernah dikomplain sama orang tua murid..”
    “apa sebab pak”?
    “gara2 anaknya gak ngerjain PR trus saya hukum ngerjain soal yang sama satu buku tulis dari depan sampe belakang”
    “wah sadis juga tuh pak”
    “lah wong tuh anak ndbleg le..”
    “trus”?
    “ortunya dateng”
    “trus”
    “ya saya bilang aja ke bapak n ibune, bapak n ibusekarang kita kasih PR ke anak bener apa salah…?
    “Lo yaa bener toh pak…”
    “itu kata kita2 sebagai gru dan ortu tapi anak2 kita bilang salah…”
    “loh kok bisa”?
    “kata mereka, kalo kita gak di kasih PR, kita gak bakalan dihukum gara2 gak ngerjain…”

    maaap..tapi ini beneran terjadi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: