HARDIK(nas)

Ada asa yang menyeruak kala hari di peringati, dua mei tiap tahun tlah di tahbiskan tuk jadi hari pendidikan.
Membaca apresiasi teman di sini, disini dan disini, terpercik sebuah proses permenungan.
Ya permenungan di HARDIK yang bersifat Nasional.
Coba tuk kutulis yang tersisa adalah sejuta tanya.
Tak ada khabar akan perbaikan,
Tak ada isyu tentang mutu.

Mengapa korupsi semakin marak?
Mengapa penegak hukum melanggar hukum?
Mengapa anak bangsa menebar benih permusuhan, dendam, dengki?
Mengapa siswa-siswi terlibat aksi kekerasan, pornografi, narkoba?
Mengapa tragedi-tragedi kemanusiaan masih mengemuka?
Mengapa sekolah yang buat pejabat malah menghasilkan pembunuh?
Mengapa sekolah jadi mahal?
Mengapa sekolah disamakan dengan pabrik?
Mengapa yang curang jadi benar, yang benar jadi dianggap curang?
Mengapa angka jadi lebih berarti di banding makna?

Atas nama pendidikan kita saya menghasilkan realitas anti pendidikan.
Kesalahan terjadi ketika yang dipercaya mengurus pendidikan ternyata melupakan falsafah tentang hakikat manusia, realitas kehidupan.
Mengapa mengutamakan target sampingan, sekolah bertaraf internasional, sekolah menjadi badan hukum pendidikan, sekolah standar nasional? Sementara masalah dasar dehumanisasi, dekulturisasi, dan deindonesiasi dibiarkan tak diurus.

Indikator keberhasilan pendidikan bukan pada target melainkan makna.
Peserta didik adalah manusia, bukan angka.
Pendidik adalah pemegang amanah, dan mendidik berarti melaksanakannya sebagai ibadah.

Lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap di cerdaskan, melalui strategi dan standar Ujian Nasional, anak bangsa sepi tetapi pasti akan terbunuh sebelum mati.
Lembaga pembodohan bangsa itu bernama sekolah.
( dedicated to Komunitas Air Mata Guru )

terakhir :
Now or Never

~ oleh kangguru pada Mei 3, 2007.

32 Tanggapan to “HARDIK(nas)”

  1. Saya juga bingung dengan pendidikan di Indonesia. Kayaknya ada yang salah deh.

    @Kang Doey
    iya pak banyak yang salah deh

  2. (Hardik)nas?
    waaah istilah pemenggalan ini tepat sekali,
    menyentil tapi tak sentimentil
    sejuta kata, menunggu jawab
    sejuta jawab, takkan mengarti
    apalagi diaplikasi…………

    @Pak Kurt
    hehehe bisa aja bapak

  3. Selamat hari pendidikan pak guru, mudah2an jangan jadi guru yg suka menghardik heehe…

    mari kita renungi bersama mengapa semua yang di tulis pak guru diatas itu terjadi di pendidikan kita…oh mengapa…

    @Bu Dokter
    heheheh saya suka menghardik tapi di tulisan ini yang saya hardik pak Mentri tuh

  4. akhirnya pak guru angkat bicara…;)

    @Dok Imcw
    abis gatel juga sich

  5. mengapa …. karena guru sering hanya bisa diam ^–^

    @degama
    pas banget pak

  6. ???………. ??? kangguru ini juga guru tho, baru nyadar saya…..
    (habis amnesia pak, kepala saya kejedot aspal gara2 disenggol nenek……. naik mobil )

    @Ndaru
    kayaknya bukan gara-gara kesenggolnya deh, apa karena neneknya???

  7. Sistem pendidikannya tidak beres mungkin!

    Sewaktu masih sekolah juga setiap 2 Mei pasti upacara gabungan dengan sekolah lain di lapangan, setiap senin juga upacara. Tiap upacara pasti ada amanat dll… tapi amanat2 itu hanya didengarkan sewaktu upacara setelah upacara lupa dengan yang disampaikan. Karena tidak ada usaha untuk mencapai semua yang diamanatkan itu, dari berbagai pihak (Guru, Murid, Kepsek, Depdiknas, Pemerintah).

    Jadinya pendidikan sekarang ini hanya mampu melahirkan generasi pecundang

    @Xsiswi
    amanat telah didengarkan hehehhe ngak tahu dilaksanakan ngak ya

  8. selamat hari pendidikan euy! aduh bingung euy komen naonnya? keur loba pikiraneun

    @Roffi
    hidup liverpool hehehhehe

  9. itulah realitas yang tidak kelihatan atau sengaja dibuat samar, efeknya pasti lebih dahsyat dibandingkan kebakaran hutan, tsunami, tanah longsor, banjir jakarta, banjir bandung selatan atau bencana-bencana lainnya…….
    mungkin lebih tepat jika disebut Bencana Pendidikan Nasional

    @apay
    saya sih berdoa moga-moga bencana yang satu ini jangan dibuat lagi

  10. Satu dari sejuta masalah adalah guru tidak bersuara dalam makna yang sama…
    Kembalilah guru pada jalan yang benar….

    @abenk
    eh lupa ada guru berpretasi, iya anda sudah ada di jalan yang benar

  11. Begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab. Semoga moment HARDIKNAS kali ini bisa mengupas satu persatu dari pertanyaan tersebut. Semoga guru pada khususnya dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya akan menjadi lebih baik dimasa datang. Hidup guru.

    @erander
    Semoga pak eh amien

  12. Hardiknas tahun ini saya happy Kang, saya naik pangkat gitu…
    @Pak Deni
    selamat pak ikut gembira dah jadi guru pembina

  13. Mengapa sekolah jadi mahal?
    Mengapa sekolah disamakan dengan pabrik?

    Emang dari dulu wa’ banyak pihak yang menganggap sekolah tak lebih dari tempat cari uang (itu bagi yang lugu), bagi yang punya bakat bisnis tentu akan lain lagi wa’. Jangan heran deh dengan komersialisasi pendidikan di negeri ini.
    Hidup guru, guru yang baik lho…

  14. pointnya sangat mengena Kang…

    – mentalitas angka
    – orientasi target
    – kekalahan sekolah
    -kekerasan dlm pendidikan
    -dlsb….

    *masih sangat jauh kita dari tujuan bangsa ini : membangun manusia indonesia seutuhnya*

  15. Indikator keberhasilan pendidikan bukan pada target melainkan makna.
    Peserta didik adalah manusia, bukan angka.

    Setuju 1000000% Wa Guru.

    Pak Menteri kan profesor, mana mau dia dengerin kita-kita. Profesor pasti lebih pinter dari kita-kita. Yang lebih parah adalah jajaran di bawahnya yang bukan profesor dan menjadi birokrat karir di Depdiknas. Merekalah yang membuat program dan menyusun anggaran.

  16. Haaaw haw haw haw… lembaga pembodohan ?!?!?!

    sayangnya anda benar. hiks.

  17. “Pembodohna masyakarat kok mashi tersu belranjut ya? Dunai Pendidikna dijadikna ajagn bisnis”

    Kalau begitu kangguru aja yang mendirikan sekolahnya – kangguru yang ngajar – kurikulum kangguru yang nyusun, gimana?

  18. Hardiknas? Semua hanya sebatas seremonial belaka😦

  19. […] pada busuk! Bagian pendidikan yang HARUSNYA mencetak manusia-manusia berkualitas juga tak kalah menyedihkan, soal ini tanya aja pada guru-guru yang […]

  20. Kita tidak atau lebih tepat kurang satu hal : “teori sudah” mempraktekan “ogah”. Dalam konteks lain, ini istilahnya benar-benar nggak mengenakan, tapi apa boleh buat ya : Karena “Indonesiaku”, seperti aku : MUNAFIK.

  21. “Lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap di cerdaskan, melalui strategi dan standar Ujian Nasional, anak bangsa sepi tetapi pasti akan terbunuh sebelum mati.
    Lembaga pembodohan bangsa itu bernama sekolah.”

    Semua lagi-lagi karena sistem yang dibuat
    akan menjadi seperti apakah bangsa ini 30 tahun mendatang??

  22. Aaaaghhh….maaf kang, telad kasih komen!
    Sebagai mantan murid, saya mengucapkan Selamat Hardik[nas]nya.😆

    Sebagi blogger, saya juga mengucapkan selamat atas pemasangan petisi onlennya.

    Hidup….Kangguru.
    Hidup….guru-guru di pelosok2 negeri.
    Hidup….Petisi onlen.

  23. Kang parantos ngawulang ??
    Kade ah hilap…ha ha ha

  24. “Pendidik adalah pemegang amanah, dan mendidik berarti melaksanakannya sebagai ibadah”

    Amanah…… mudah dikata tapi susah dibuktikan. Semoga kita semua istiqomah untuk memegang amanah sebagai pendidik….

  25. Ah… guru rupanya?
    Bagus, Kang. Aku sendiri kalo bukan karena hampir semua keluarga besarku itu guru, mungkin akan jadi Guru juga. Kata orang, punya bakat mendidik sihh *alah… ge-er :)) *

    Bicara nasib guru, beueuhh… ngerasain benarlah gimana pedihnya. Apalagi macam ibuku yang ngajarnya di pelosok dulu. Beras CATU (campur batu) aja disunat…

    Salam kenal, Kang🙂

    @alex
    salam kenal kembali
    ditunggu kabar dari acehnya

  26. “Mengapa mengutamakan target sampingan, sekolah bertaraf internasional, sekolah menjadi badan hukum pendidikan, sekolah standar nasional? Sementara masalah dasar dehumanisasi, dekulturisasi, dan deindonesiasi dibiarkan tak diurus.”

    Jawabnya: tanya kenapa?

  27. yah.. karena apa ya ? mungkin karena belum makan.

  28. yuk.. kita majukan pendidikan di Indonesia.
    kita yakin dengan niat ikhlas… semangat pantang menyerah… dan berdo’a padaNya… pendidikan Indonesia akan lebih baik-lebih baik dan lebih baik…
    Bravo pendidikan…
    Bravo Indonesiaku..

  29. Kita harus optimis untuk terus memajukan pendidikan di indonesia tercinta .Jangan hanya mengeluh kita harus bergerak.

    Salam kenal aku pendatang baru di dunia blog.Mohon kritik dan saranya

  30. Mas, hari pendidikan nasional dirayakan sepi kini…mungkin karena tak ada lagi yang melihat sisi baik dari dunia pendidikan kita. Soal ujian yang bocor dan amburadul lah, soal kekerasan di sekolah (hingga perguruan tinggi), atau soal gaji guru honorer yang tersendat, atau kekerasan oleh sang guru sendiri (mungkin karena pusing dengan urusan ekonomi). Pokoknya ruyam. Jadi benar yang anda tulis….hanya menjadi DUNIA HARDIK……guru menghardik murid, murid menghardik guru, orang tua menghardik anak dan guru, kita semua mengHARDIK pemerintah yang tak becus mengurusi pendidikan……(maaf emosi) 🙂

    @Thamrin
    iya kang yang terdengar hanya saling meng HARDIK nya aja

  31. udah kayak lingkaran setan ya…ngurutinnya udah pabeulit dari mana2…udah lieur lah pokonamah….

    @Nila
    lieur siga tos nuang kolecernya teh

  32. Benar, Pak. Kenapa sih pendidikan di Indonesia itu aneh bin ajaib banget…?
    Apa ada yang bisa jawab?
    Menurut saya sih yang paling utama adalah mementingkan nilai daripada makna itu lho…
    Karena kalau begitu kan murid-murid yang bodoh secara otak dan moral akan menghalalkan segala cara.

    @divineangel
    kalo ngak ajaib bukan endonesah kali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: