Suatu Pagi Di Pinggir Jalan

Lelaki tua itu termenung di persimpangan jalan, rambutnya sudah putih semua, menjinjing tas tua berisi satu stel pakaian.
sempat kusapa sejenak ” Mau kemana pak? ”
” Entahlah dik, mau ke parung kuda nyusul adik saya tapi ia lagi ada di garut. ”
” Mau ke bekasi nyari pekerjaan namun hati sedang gundah ”
” Entah lah dik ”


Pagi masih disapa kabut, tatkala kebingungan makin tak terjawab.
Lantas meluncurlah cerita sederhana, dalam bentuk obrolan di bangku warung pinggir jalan.
” Saya punya anak dua yang satu sudah menikah, ” kata Pak Tua
” Trus yang satunya lagi kemana pak?” Tanyaku sekadar basa-basi
” Yang belum menikah kakaknya, cuman agak beda perilakunya dik, maunya disuapin terus “. jawab pak Tua
” Emangnya rumah bapak dimana ?” pertanyaan asaltanya dariku daripada dianggap tembok hehehe
” Rumah bapak di Bandung, sekitaran jamika.” jawabnya.
” Lho kok sepagi ini bapak sudah ada di Sukabumi, bapak darimana ?” aku keceplosan mau tahu aja urusan orang.
” Bapak dari rumah adik bapak yang satu lagi, udah nginep semalem cuman ngak enak abis dia juga masih numpang di rumah mertuanya.”
Kunyalakan sebatang rokok, lalu kutawarkan, “Rokok pak?”
“Makasih dik, bapak udah lama berhenti merokok”. Deug ada yang menohok pelan sih tapi dalem.
” Trus kenapa bapak masih nyari kerjaan pak?” euh dasar bawel nanya terus
” Itulah dik kontrakan bapak di bandung udah hampir habis, sementara anak bapak kan ngak mau tahu bahwa kontrakannya harus dibayar, ya terpaksa bapak harus cari pekerjaan.”
” Lho emangnya selama ini bapak kerja apa ? ” ih aku ini mau tau aja sich
” Ya bapak sich kerja apa saja dik, sempat empat bulan kerja bikin tiang untuk menara HP, cuman baru setengahnya harus dihentikan karena masyarakat sekitarnya demo” sahutnya.
” Eh adik mau kemana ?” pertanyaan pertama dari pak tua
” Mau ke Bogor pak “, jawabku.
” Lho bukanya dari tadi banyak kendaraan umum yang menuju Bogor!” serunya.
” Iya pak, saya sich bisa pake apa saja, pake angkot, pake colt mini, atau bis, ” kucoba mengelak.
” Adik kerja apa ?” pertanyaan ke dua bapak tua.
” Saya guru pak.” jawabku
” Alhamdulillah, bagus itu dik, di negri atau di swasta ngajarnya ?” pak tua kemabali bertanya
” di negri pak “, jawabku
” wah hebat atuh, di negrimah nanti dapat pensiun, enak ya, engak kayak bapak sudah tua begini masih harus terus mencari pekerjaan!”
“Iya pak Alhamdulillah, trus bapak mau kemana jadinya ?” kucoba mengembalikan rel obrolan
” Entahlah dik, bapak bingung. Kalau adik mau berangkat silahkan itu coltmini masih kosong, ngak usah nungguin bapak.”
ehm dapat angin nih ” iya pak saya berangkat dulu “.
Kunaiki colt mini menuju bogor, dan seperti biasa hari terus berjalan meninggalkan sejuta persoalan hidup, yang memang harus terus ditempuh.

~ oleh kangguru pada Juni 2, 2007.

24 Tanggapan to “Suatu Pagi Di Pinggir Jalan”

  1. sempat empat bulan kerja bikin tiang untuk menara HP, cuman baru setengahnya harus dihentikan karena masyarakat sekitarnya demo

    Lho… menara HP koq disamakan dengan Sutet???
    Tanya kenapa??
    Padahal insyaAllah aman kalau konstruksinya benar.
    @agam
    ngak ngerti tuh kenapa begitu ya

  2. karunya atuh si bapak eta teh.. didoakeun ti katebihan sing kenging dipikahoyong

    @roffi
    nyaeta kang pikarunyaeun, hoyong tiasa nulungan ngan nyaeta atuh kang bingung

  3. pengalaman yg indah … sekaligus membuat kita untuk “merenung” … *entah apa yg harus direnungkan*
    @Teh jurig
    hehehheheh Entahlah ™

  4. perjuangan dan bertahan hidup yang membuat hati jadi miris dan ngeri di negeri ini kang

    @peyek
    hidup memang penuh perjuangan pak

  5. Begitulah keadaan masyarakat di sekitar kita…..banyak yang mengkhawatirkan.
    Makanya, kita yang masih diberi kelapangan seperti ini (sampai bisa nge-blog segala), harus/wajib bersyukur….

    @mathematicse
    Alhamdulillah ya kang

  6. Memang kagguru harus bersyukur, lihat kalau ada lowongan CPNS, wuiih…bejibun yang pengan jadi guru seperti kangguru..
    Ngomong2 dulu resepnya apa kok bisa ketrima kang? saya puluhan kali ikut CPNS gagal maning, gagal maning..

    @junthit
    entahlah wong aku ngak pake resep, ujian dan lulus

  7. ” wah hebat atuh, di negrimah nanti dapat pensiun, enak ya, engak kayak bapak sudah tua begini masih harus terus mencari pekerjaan!”“Iya pak Alhamdulillah, trus bapak mau kemana jadinya ?” kucoba mengembalikan rel obrolan

    Jangan jadi bloger, nanti kalau tua gak ada pensiunannya…..!
    @mr Tajib
    deuh yang pekerjaannya blogger, entar diusulin ke simatt biar dapet pensiun

  8. Karunya pisan bapak eta, mudah-mudahan kahoyong kanggo nyumponan kabutuhna sing laksana. Naha ku tega eta para putrana

    @Indra kh
    enya kang watir abdimah

  9. … … … (tak bisa berkata apa-apa)

    @ndaru😦 speecless kang

  10. Kalau nanti jadi dilaksanakan, PNS juga nggak dapet pangsiun loh. Dapetnya pesangon doang macam sebagian pegawai swasta. Aku yakin nggak banyak yang mau jadi PNS kalau begitu …

    @KANG KOMBOR
    Entahlah kang kalau begitu

  11. Mengharukan … sama mengharukannya dengan kebanyakan para pns yang sudah pensiun, bilangnya tetap gak cukup jua, atau dicukup-cukupkan

    @pak Dokter
    ya dicukup-cukupkan aja kang, segitu juga sudah alhamdulillah

  12. hmmm…jadi merenung sendiri.
    perjalanan hidup kita memang penuh misteri.
    Gelak tawa, sedih, puas dan kecewa campur aduk dan berselang-seling, datangnyapun silih berganti.
    Cerita diatas sungguh Mengharukan…

    @Sugeng
    haru biru kang

  13. maaf kang, icon emotionnya salah! seharusnya yang ini😥

  14. segitu polosnya ya pikiran si bapak……
    semoga obrolan ini memberi pencerahan pada manusia2 yg terlalu memikirkan hil hil yg mustahal…..
    damang kang guru?
    nuhun pisan perhatosanana salami abdi titirah…..

    @Teh Nila
    ALhamdulillah teh, kangen juga lho
    mugia sing sabihara-sabihari teh

  15. Kadang obrolan sedang nunggu bis atau angkot memang asyiik….!!

    @thamrin
    iya kang sederhana namun penuh makna

  16. salut kang…ternyata kang guru masih ada kepedulian ama orang lain walau sekedar mengajak ngobrol…jarang banget orang kayak gitu…semua cuek dengan urusannya sendiri…

    @Pak Dokter IMCW
    hanya latihan jadi pendengar pak

  17. Banyak sekali orang yang hidup di kota besar seperti jakarta ini hanya dengan bertahan hidup. Gaji yang diterima hanya pas-pasan untuk ongkos dan makan. Sementara untuk rekreasi sangat sulit terrealisasi. Duh susahnya hidup.
    Kembali ke kampung yukkkkkk

    @prayogo
    yuk ah bangun kampung kita

  18. Haru banget, gimana aku ya, klo aku tua nanti semoga ng’ kaya’ gitu. amin. *egois ya*
    Tapi ikut sedih loh😦

    @anas
    mudah mudahan ngak gitu ya

  19. .hiks.

  20. Nice story. Memang banyak sekali orang yang hidupnya jauh kurang beruntung dari kita. Saya juga gemes tuh sama anaknya si Bapak. Kok tega-teganya membiarkan orangtua seperti itu. BTW, saya jadi ingat colt mini nya. Dulu waktu kecil saya suka naik angkutan ini dari Sukabumi ke Bogor. Saya bisa merasakan lagi naik colt dua minggu lalu dari Sukabumi ke Ciawi.

    @Kang doey tea
    hihi deg degan teu kang naek coltmini hehehhe

  21. Mungkin konsep berpikir masyarakat kita yang keliru. Sering kali, sejak muda kita dipaksa2 untuk segera nikah, agar setelah tua, anak sudah besar dan mandiri. Padahal, banyak fakta .. ketika sudah tua, tetap saja harus merawat anak yang sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga.
    Ketika menikah, kita hanya berpikir satu .. buru2 biar nanti tua anak2 sudah mandiri. Kita lupa, yang harus kita siapkan adalah setelah punya anak, bagaimana mendidik, menjamin hidup mereka agar mereka mandiri. Kita lupa, bahwa setelah mendapat anak, mereka akan mandiri sendiri.
    Peranan orang tua sangat besar andilnya membuat seorang anak menjadi mandiri. Ingat, bukan soal materi. Tapi mental. Banyak contoh, orang2 yang kaya raya, tapi anaknya malah tidak mandiri. Ketika orang tuanya sudah uzur, tetap saja ‘netek’ dengan orang tuanya.
    Cerita diatas menjadi renungan buat ku. Bahwa yang paling penting adalah menyiapkan diri dimasa tua. Misalnya menjaga kesehatan agar nanti tidak sakit2an. Mengikuti program pensiun lewat DLPK yang ada di bank2. Sehingga tanpa menjadi PNS pun kita bisa menikmati pensiun.
    Good story Kang.
    @erander
    thx pak bener juga yah

  22. apakah pelajaran yang bisa diambil ? guess what ?? he-he

    @Bachtzia
    hehhe apa coba?🙂

  23. “”“Makasih dik, bapak udah lama berhenti merokok”. Deug ada yang menohok pelan sih tapi dalem””
    manawi tiasa, mangga geura liren atuh nyeuseup kebul teh akang🙂
    BTW : emutan kumalayang ka pun bapa sinareng emak di lembur….
    @Kang Biho
    iraha atuh bade kalembur kang

  24. <blockquote>sempat empat bulan kerja bikin tiang untuk menara HP, cuman baru setengahnya harus dihentikan karena masyarakat sekitarnya demo</blockquote>
    Ternyata gajah berkelahi melawan pelanduk yang mati adalah pelanduk lainnya…
    Duh gusti…

    @deking
    rakyat kecil lagi yang jadi tumbal kang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: