“Eistein aja Menolak UN”

Sebuah komentar tulisan muncul di posting berjudul Menjelang UN Lagi dan Lagi, dari seorang kawan di Riau, setelah di baca nampaknya lebih bagus ( sungguh lebih bagus dari tulisan saya :) ) kalo diangkat jadi posting aja, silakan disimak:

“Eistein aja Menolak UN”
Oleh : Ali PUllaila
SMA N 1 Rambah Pasirpengarayan
Kab. Rokan Hulu Prop. Riau

Seandainya saja Einstein masih hidup mungkin saja dia berada pada barisanpaling depan demonstrasi siswa yang menolak ujian nasional (UN). Rencanapenambahan mata pelajaran yang akan diujikan dalam ujian nasional (UN) tingkatSMA dan SMP pada 2008 mendapat respons negatif. Penolakan justru datang darisiswa yang akan menjadi peserta dalam UN mendatang.

Kemarin (2/11) ratusan siswa dari berbagai SMA di Jakarta berunjuk rasa di depan kantor Depdiknas. Mereka menolak kebijakan yang dinilai semakin memberatkan itu. Mereka mengkhawatirkan akan banyak siswa yang tidak lulus UN. ”Tiga (mata pelajaran) saja sudah berat apalagi enam,” teriak siswa. Bayangbayang ketidaklulusan tersebut semakin nyata ketika pemerintah juga berencana menaikkan standar kelulusan dari rata-rata 5 menjadi 5,5.

Pemerintah memang berencana menambah mata pelajaran yang diujikan dalam UN 2008. Selama ini, mata pelajaran yang diujikan adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Di tingkat SMP, mata pelajaran hanya berubah menjadi empat, yakni ditambah IPA. Di tingkat SMA, mata pelajaran UN menjadi enam dengan penambahan berbeda-beda di kelas IPA dan IPS. Untuk IPA, akan ditambah fisika, biologi, dan kimia, sedangkan IPS ditambah sosiologi, geografi, dan ekonomi.

Khusus SMK diperbolehkan menambah mata pelajaran sesuai dengan spesialisasi yang ada di sekolah tersebut. Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas Bambang Wasito Adi mengatakan, keputusan pemerintah tentang penambahan mata pelajaran tersebut sudah final. ”Tinggal menunggu permendiknas yang sedang digodok,”. Rencana penambahan mata pelajaran UN dari tiga menjadi enam mata pelajaran, menurut Bambang, merupakan upaya pemerintah untuk selalu konsisten mengukur hasil pendidikan. Hal itu juga mengakomodasi mata pelajaran lain yang dinilai penting. Penambahan tersebut, lanjut dia, tidak perlu ditakuti siswa. Sebab, materi yang akan digunakan dalam UN sama dengan materi dalam ujian akhir sekolah (UAS).


Reaksi keras bermunculan dari belahan Nusantara ini baik guru maupun siswa selain di Jakarta, di Medan ratusan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumatra Utara dan praktisi pendidikan memadati Lapangan Merdeka, Medan, Kamis (1/11). Mereka menggelar upacara penyampaian deklarasi penolakan ujian nasional (UN) Liputan6.com. UN dinilai melanggar undang-undang sistem pendidikan nasional. Selain itu memboroskan uang negara tanpa memiliki orientasi yang jelas sehingga berdampak buruk bagi perkembangan murid. Apalagi praktik pembocoran soal dan KKN menambah keruh pelaksanaan ujian. Selain deklarasi, penolakan UN diwujudkan dalam bentuk penandatanganan spanduk sepanjang 100 meter. Setiap orang yang menolak UN dipersilakan ikut. Tak hanya itu, penolakan UN ini bahkan disertai dengan ancaman mogok mengajar oleh PGRI. Pada tahun lalu, para pengajar yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru menyebutkan adanya penyelewengan dalam pelaksaan UN. Beberapa di antaranya dipaksa berhenti mengajar UN menurut Einstein adalah “Mimpi Buruk” (Nightmare). Minat pribadi Einstein pada pendidikan merupakan tema pernyataan publiknya yang pertama tentang nonsains dihadapan audiensi yang cukup besar. Di tengah-tengah kecamuk perang dunia yang I, dia menulis artikel suatu imbauan yang cukup emosional kepada pemerintah Jerman agar mengakhiri keharusan bagi murid-murid menempuh ujian akhir yang sulit sebagai syarat kelulusan dari SLTA. Untuk memahami apa yang mendorongnya menulis artikel ada baiknya kita mengetahui pengalaman pribadinya menjalani pendidikan di Jerman.

 

Albert memulai pendidikannya di sekolah dasar umum pada musim gugur 1885 di Munich, Jerman. Dia waktu itu berumur 6,5 tahun. Kebiasaan umum sekolah waktu itu dan bahkan waktu sekarang mungkin saja ke waktu masa datang adalah menerapkan disiplin yang berlebihan kepada murid-murid dengan memukul bagian tangan dan hukuman lainnya yang menyakitkan dan menakutkan. Einstein yang prestasinya rata-rata seperti anak lain mengalami juga tangannya kena pukulan. Yang berwenang di sekolah mengeluhkan bahwa Albert tidak bisa menangkap maksud pertanyaan yang diajukan gurunya dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan cepat. Dia kemudian membandingkan guru-guru tersebut dengan kopral-kopral di kententaraan yang menghadapi tentara anak-anak. Pada musim gugur 1888, pad umur 8,5 tahun Abert masuk ke Luitpold – Gymnasium (SLTP) di Munich, yang memberinya jalan menuju pendidikan ke perguruan tinggi. Di SLTP penekanan pendidikan diberikan pada subjek nonsains namun dia tidak menyukai subjek ini karena hanya menekankan pada bahasa Latin dan Yunani Kuno, karena dia menulis tugas sangat buruk sekali sehingga gurunya
meramalkan bahwa Einstein tidak akan pernah menjadi apa-apa.

 

Albert menghabiskan waktu setahun berikutnya, 1895-1896, pada waktu SLTA di Aarau, lima puluh kilometer di arah barat Zurich. Disisnilah dia mendapat akses ke Laboratorium fisika yang terkenal untuk waktu itu. Di laboratorium ini dia belajar dengan bersemangat dengan guru-gurunya yang liberal, dengan ketulusan yang bersahaja tanpa harus mengandalkan otoritas dari luar, memberikan kesan yang tak terlupakan pada diri Einstein. Dibandingkan dengan enam tahun di sekolah psikomotornya sangat mendukung untuk menjadi tentara. Apakah sebelum menembak musuh tentara mesti menghitung dulu berapa kecepatan peluru, berapa sudut tembak atau mesti baca puisi dulu agar musuh tertidur lalu ditembak. Secara tidak langsung UN telah membunuh cita-cita anak bangsa, UN juga menciptakan jurang pengangguran yang makin dalam. Mengapa UN mesti dipertahankan? Ada juga wacana dari beberapa rekan Guru dan Dosen kalau UN juga tetap dilaksanakan tapi kelulusan pada sekolah seperti pada tahun 90-an mungkin keadaannya tidak akan runyam seperti ini, masalah lulusan nanti apakah diterima menjadi ”tentara” atau di terima di ”ITB” itu tergantung dari personal siswanya sehingga UN tidak menjadi penjegal cita-cita anak didik. Rasanya juga percuma siswa lulus semua dan peringkat sekolah naik tapi yang ujian adalah ”guru” nilai
siswa secara keseluruhan tinggi-tinggi tapi waktu penerimaan siswa baru di Perguruan Tinggi tidak ada yang lolos. Apakah UN akan tetap di lakukan jawabnya tegantung pada para pemimpin kita, semoga saja mereka menggunakan nurani untuk memikirkan bangsa ini demi masa depan.

Tentang Penulis:
Nama : Ali Pullaila,
Alamat Tempat Tugas: Jl. Diponegoro No 750 Pasirpengarayan
Kec. Rambah. Kab. Rokan hulu. Provinsi Riau
Phone : 085221913075
Email : alifkemba@yahoo.com

Ayo dong pak Ngeblog

~ oleh kangguru pada November 28, 2007.

29 Tanggapan to ““Eistein aja Menolak UN””

  1. ”Tiga (mata pelajaran) saja sudah berat apalagi enam,” teriak siswa.

    hm.., saya dulu ujian berapa mat-pel ya?
    -bhs indonesia
    -bhs inggris
    -matematika
    -fisika
    -kimia
    -biologi

    waks.., ternyata ada banyak

    (^_^)

  2. Biarin aza einstein nolak. waktu buzzzh ke irak aza miliiaran orang teriak, buzzzh ngotot pergi. soalnya pa mentri kagak ikut UN dulu, biar beda kali.

  3. gmn kalau bikin ujian lewat blog? :))

  4. btw, rapiin dong tulisannya pak guru..

  5. Kalau saya sih jangan enam, kenapa tidak sepuluh sekalian.
    Maksudnya, pelajaran yang diajarkan di sekolah bukannya banyak sekali.. kenapa yang diujikan hanya enam?

    Masalahnya, ujian hidup bukannya lebih kompleks ada beribu masalah di sekiar kita. Bahkan negara pun punya masalah besar antaar bangsa. So, kenapa cuma enam heheheh :)

    Yo dong Pak Ngeblog…. sibuk proyek terus nih.. :)

  6. Kayaknya dah terlalu banyak pihak yang nggak setuju sama UN. Tapi agaknya pemerintah kok punya jalan pikiran sendiri demi menjadi gengsi bangsa di negeri tetangga.

  7. Yang tiga aja udah riuet apalagi ini enam. Apakah demi gengsi atau harga diri sebagai bangsa Indonesia, kita tunggu saja tanggal mainnya :)

  8. Dulu yg diujikan banyak hingga 6-7 mata pelajaran, tapi waktu itu kahn tak menentukan kelulusan, itu pas jaman sekolah saya dulu, tapi saya sependapat dengan mereka yang menolak UN.

    Alasannya lebih banyak madharat daripada manfaatnya, lebih lengkap uraiannya klik link ini

    Maaf, pak! tidak ada maksud promosi loh! btw, salam kenal pak guru!

  9. Bukan hanya Einstein, Mr. Muhammad Yamin pun mungkin juga akan menolak UN. Juga HOS Tjokroaminoto.

  10. Fasiltas tidak standar, bagaimana menghasilkan lulusan yang standar? Heran nih sama pemerintah kita, berfikir apa nggak sih mereka? Otak udang kepala batu.

  11. sebenernya kita di indonesia ini lebih memilih nilai ataukah mutu peserta didik sih??
    kalo emang nilai yah tingkatkan dong kesejahtraan dan kemampuan guru sehingga anak didik mampu mendapat nilai yang sempurna dan memuaskan bapak2 yang ingin itu…
    kalo ingin mutu peserta didik yah sama tetap tingkatkan kesejahtraan dan kemampuan guru sehingga mutu pendidikan dapat meningkat :lol:

  12. @axireaxi
    sama pak saya dulu juga segitu ebtanasnya

    @hasan ya
    biarin aja lah

    @antonemus
    aha …. boleh juga tuhujian lewat blog…..

    @pak Kurt
    yuo Ujian idoep seoanjang masa hahhaha :)

    @pak Sawali
    Nasib – hidup di negara yang pejabatnya tak pernah diajarkan kompetensi mendengar pak

    @gempur
    segera menuju TKP

    @Kang Kombor
    hahahha semua arwah menolak ya kang

    @Dok Imcw
    iya pak apapun prosesnya hasilnya harus standar

    @almas
    yang dipilih ya proyek lah….

  13. @kang Taryan
    iya kang tinggal tunggu waktu

  14. UN itu sebenarnya penting. Karena kalau tidak dibuat begitu, murid jadi tidak serius belajar (hanya murid2 dengan kesadaran tertentu saja). Kalo soal memberatkan atau tidak, saya tidak berani kasih komen

    @Adityawarman
    tak ada assestmen yang sempurna, namun tak ada sistem yang sempurna tanpa asseetmen ya pak

  15. Salam Kenal ya….

    => Hansteru WebBlog <=

  16. sebenarnya ukuran kelulusan siswa itu yang bagaimana sih? yang seperti apa? sekedar angka saja dan kemudian mereka keluar dari sekolah dengan berbagai kebingungan tentang kerja… andai sistem pendidikan kita lebih terorganisisr, bukan hanya sekedar angka angka dan angka
    just remember mendidik adalah memberikan pemahaman dan kreativitas…

    @bu may
    yang penting dapat nilai diatas 5,25 tak peduli apapun caranya

  17. indonesia, ada apa dengan pendidikan? sampai hari ini selalu masih ada perdebatan, sampai kapan, anak2 sekolah dan belajar dengan tenang?

    @zam
    berdebat emang lebih penting dari upaya pencerdasan anak bangsa pak :(

  18. wah makin gak jelas aja neeh arah pendidikan nasional

    @ayah shiva
    bak cermin kaca retak dan berdebu pak

  19. Jangan tanya Pak Einstein saja Pak Guru….Gimana kalau kita tanya juga kepada Anggota DPR ,DPRD yang terhormat …setuju enggak ya…
    Eh…atau kalau tidak gimana kalau mereka juga di suruh UN pasti sip…he he….

    @simbahe
    wah wah ide bagus itu… tinggal kita lihat berapa prosen yang lulus

  20. Menurut sayah, peletakdasar konsep pendidikan di Indon nyang sudah salah sejak doloo-doloonya…

    Kalok sayah mbandingin dengan di China dan Korea, kita memang salah kaprah.

    Jadi, langkah nyang diambil Pemerintah sekarang justru untuk menyelamatkan generasi muda nyang akan datang…

    Resikonya, generasi nyang UN saat ini menjadi tumbal….

    @mbah mbel
    tumbal kok satu generasi mbah

  21. kalo saya sih mau aja, mau ditambah 3 kek, mau nilainya dinaikkan kek, pokoknya dengan syarat ujian matematika dihilangkan…

    Hu…. Matematika dasar1, Statistika, sama matrix dan vektor aja sampe sekarang belum lulus…..

    @ndaru
    itulah bedanyah matematika dasar dengan DASAR MATEMATIKA

  22. Saya juga tdk setutjuuu…
    ada yg mao ikutan demo ?

    @telmark
    ayooooooo

  23. hummpphhh…
    gimana tho benernya sistem pendidikan di endonesa ini?
    kok serasa salah kaprah semuwa..

    @tikabanget ™
    aih ada mbak tika…..
    bagai benang basah dan kusut mbak

  24. Menurutku UN tidak perlu mengikut sertakan pelajaran2 tambahan itu. Aku aja yang kuliah malah dikurangi mata kuliahnya. Sekarang di Falkultas Kedokteran Gigi UNAIR, tidak ada lagi mata kuliah KIMIA, FISIKA, dan BIOLOGI. Soalnya memang tidak berguna. Gak ada hubungan dengan kedokteran gigi. Seharusnya SMA mulai berpikiran semacam itu. Jadi penjurusannya lebih mengarah ke bidangnya masing2. Tiru aja deh luar negeri. Penjurusan di Indonesia masih kacau. Ada cerita anak yang di Indonesia dianggap bodoh, tapi setelah pindah sekolah ke Australia dia jadi musisi yang terkenal. Banyak contoh2 semacam itu.

    @agam
    itulah gam indonesia terlalu banyak pelajaran jadinya malah muntah

  25. rasanya semua pelajaran berguna, nabi saja nyuruh umatnya “belajar” ke china. apalagi kedokteran wah saya nggak ngerti kalo dari dulu para dokter tidak belajar IPA “fikibi” hampir semua alat yang digunakan dokter itu alat IPA. Umpamanya dokter gigi mulai dari t4 duduknya, bor terus senter,lampu dll. bila suatu saat peralatan ini rusak dengan adanya dasar elmu IPA mungkin teratasi. Saya juga ngajar Fisika kesehatan di AKBID (akademi kebidanan) kalo dipikir aneh juga apa waktu ngelahirin diperlukan “tuas” kan tidak tapi fisika membuka pemikiran bagaimana cara melahirkan dengan mudah menurut teori fisika. lalu bagaimana “mengukur”, menggunakan alat2. di luar negeri juga belajar seperti kita tidak ada bedanya “omong kosong” yang mengatakan belajar diluar negeri itu apa yang dibutuhkan saja.

  26. Menurut saya UN jangan dijadikan satu-satunya standar kelulusan. Karena siswa tidak cuman belajar mata kuliah yang diikutsertakan dalam UN. Lebih baik kelulusan siswa diserahkan ke sekolah saja. Pemerintah cukup membuat standar dasar kelulusan untuk sekolah2. Kalaupun pemerintah ingin mengadakan dengan alasan untuk mengukur kesuksesan penyelenggaraan pendidikan sih sah-sah saja, tapi kalo sekiranya dijadikan satu-satunya standar kelulusan saya kira kurang pas.

    Btw, maen2 ke blog saya ya. Thx :) :)

  27. saya stuju pak made, un tetap jalan kelulusan di tentukan oleh sekolah, perkara setelah lulus mo jadi apa terserah yang bersangkutan agar belajar lebih giat lagi.

  28. ikutan ujian kejar paket aja. Kawan saya dulu ada yang ngga lulus umptn 3 kali terus ikut ujian persamaan dan akhirnya bisa masuk ITB berkat ijazah persamaan. Sodara saya yang ngga masuk SMU Negri juga saya sarankan ambil bimbel aja, dan nanti ikut ujian persamaan. Yang penting bisa masuk Universitas Negeri.

  29. saya setuju UN ditentukan oleh sekolah dan juga seharusnya standar kelulusan bukan hanya mata pelajaran yang di UN kan saja bukan kah tiap orng punya jenis kecerdasan yang berbeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: